BAB I
PENDAHULUAN
I.
Latar
Belakang
Indonesia dahulu adalah wilayah yang
kaya akan rempah-rempah. Karena kekayaan rempah-rempah tersebut banyak sekali
negara-negara dari Eropa mulai datang ke wilayah Indonesia untuk membeli
rempah-rempah.Negara-negara Eropa yang awalnya datang untuk membeli
rempah-rempah lama kelamaan mulai mencoba untuk menjajah daerah-daerah yang
memiliki banyak sekali rempah-rempah dan daerah yang strategis.
Negara-negara Eropa yang pernah
menjajah indonesia seperti Portugis dan Belanda. Di antara negara-negara
tersebut negara Belanda yang paling lama menjajah Indonesia.Dalam masa
penjajahan bangsa Belanda rakyat Indonesia hidup sengsara.Banyak sekalai
perjuangan-perjuangan yang telah dilakukan oleh pahlawan-pahlawan kemerdekaan
Indonesia.Indonesia akhirnya dapat memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal
17 agustus 1945.
Kemerdekaan itu tidak lantas membuat
Indonesia terbebas dari belenggu masalah, Indonesia masih harus menghadapi
berbagai perlawanan yg datang dari bekas penjajah yang tidak mengakui
kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kebersatuan dan keutuhan Negara
Indonesia yang merdeka diuji dengan terjadinya berbagai peristiwa
maupun pergolakan yang terjadi berbagai wilayah di Indonesia.
Diantaranya Indonesia harus mengalami masa perang dalam memperjuangkan dan
mempertahankan kemerdekaan atau yang lebih dikenal dengan perang
kemerdekan yang terjadi pada tahun 1945-1965
Oleh sebab tersebut, makalah ini
akan membahas tentang Indonesia pada awal proklamasi sampai perjuangan
mempertahankan kemerdekaan Negara Indoneisa.
II.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
kehidupan politik pada masa awal kemerdekaan?
2. Bagaimana
kehidupan ekonomi pada masa awal kemerdekaan?
3. Bagaimana
kehidupan sosial pada masa awal kemerdekaan?
III.
Tujuan
Berdasarkan
latar belakang dan rumusan permasalahan yang ada, maka tujuan penulisan makalah
ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui kehidupan politik pada masa awal kemerdekaan
2. Untuk
mengetahui kehidupan ekonomi pada masa awal kemerdekaan
3. Untuk
mengetahui kehidupan sosial pada masa awal kemerdekaan
BAB
II
PEMBAHASAN
I.
Kehidupan
Politik Pada Masa Awal Kemerdekaan
Dengan diperkenalkannya sistem
politik multipartai, tidak dengan sendirinya menciptakan tatanan politik yang
demokratis seperti yang diharapkan semula.Sebaliknya yang terjadi adalah
meningkatnya perebutan kepentingan golongan dalam partai-partai politik Pembentukan
partai-partai politik yang mulanya dimaksudkan untuk menyalurkan aspirasi
rakyat melalui partai politik malah dimanfaatkan oleh politisi sebagai ajang
perebutan kursi atau jabatan.Akibatnya adalah sering bergantinya
kabinet-kabinet dalam pemerintahan karena dijatuhkan oleh perlemen (KNIP).Pergantian
kabinet dalam kurun waktu 1945-1950 adalah sebagai berikut.
1. Kabinet
Presidensiil pertama : 12 September 1945 – 14 November 1945
2. Kabinet
Syahrir I : 14 November 1945 – 12 Maret 1946
3. Kabinet
Syahrir II : 12 Maret 1946 – 20 Oktober 1946
4. Kabinet
Syahrir III : 20 Oktober 1946 – 27 Juni 1947
5. Kabinet
Amir Syarifuddin I : 3 Juli 1947 – 11 November 1947
6. Kabinet
Amir Syarifuddin II : 11 November 1947 – 29 Januari 1948
7. Kabinet
Hatta I (Presidentil) : 29 Januari 1948 – 4 Agustus 1948
8. Kabinet
Darurat (PDRI) : 19 Desember 1948 – 13 Juli 1949
9. Kabinet
Hatta II (Presidentil) : 4 Agustus 1949 sampai 20 Agustus 1949
Sistem pemerintahan awal kemerdekaan
adalah sistem Presidensiil, yaitu kabinet dibentuk dan bertanggungjawab kepada
presiden.Kedudukan presiden selain sebagai kepala negara juga sebagai kepala
pemerintahan.Selanjutnya sistem Presidensiil berubah menjadi sistem Parlementer
dimana presiden bertanggungjawab kepada parlemnen dalam hal ini KNIP.Sitem
Parlementer ditandai dengan terbentuknya kabinet dibawah pimpinan Perdana
Menteri Sutan Syahrir, dilajutkan Amir Syarifuddin, dan terakhir Hatta.
·
Perkembangan
Ideologi dan Partai Politik Pada Awal Kemerdekaan
Awalnya hanya ada 1 partai politik
yang ada yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI) tapi berdasarkan Maklumat
Pemerintah No. 3 tanggal 3 November 1945 tentang anjuran pembentukan
partai-partai politik didasarkan dari berbagai aliran yang ada dalam masyarakat.
Selanjutnya muncullah partai-partai politik dengan ideologinya
masing-masing.Sehingga sejak saat itu Indonesia menganut sistem
Multipartai.Partai-partai tersebut adalah sebagai berikut.
- Partai
Nasional Indonesia (PNI)
- Majelis
Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi)
- Partai
Komunis Indonesia (PKI)
- Partai
Buruh Indonesia (PBI)
- Partai
Rakyat Jelata (PRJ/Murba)
- Partai
Sosialis Indonesia (Parsi/PSI)
- Persatuan
Rakyat Marhaen(Permai)
- Partai
Rakyat Sosialis (Paras)
- Partai
Kristen Indonesia (Parkindo)
- Partai
Katolik Republik Indonesia (PKRI).
Apabila partai-partai tersebut
dikelompokkan berdasarkan ideologinya maka terdapat kelompok partai dengan
ideologi sebagai berikut :
·
Ideologi
Bersifat Nasioanalisme
Partai yang mendasarkan
ideologinya bersifat nasionalis adalah Partai Nasional Indonesia (PNI).Dasar
perjuangan partai yang ideologinya nasionalis adalah lebih pada faktor
kemanusiaan, yang mengutamakan tercapainya kesatuan bangsa.Tujuan dari partai
beridelogi nasionalis adalah mengutamakan terwujudnya kebebasan nasional sebab
kebebasan nasional merupakan pintu gerbang ke arah kemakmuran suatu
bangsa.Penting dilakukan hubungan dengan dunia internasional, tugas bangsa
untuk membentuk suatu komunitas bangsa yang bebas dari dominasi dan tekanan
bangsa asing baik dalam politik, ekonomi, maupun budaya.
·
Ideologi
Bersifat Agama
Dasar dari partai yang ideologinya
bersifat agama adalah perjuangan yang dilakukan mengutamakan penyebaran dan
penerapan kaidah-kaidah atau hukum-hukum yang berlaku pada agama bersangkutan.
Partai yang berideologi keagamaan di Indonesia diantaranya :
1)
Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia
(Masyumi) dan Partai Nahdlatul Ulama yang beraliran Islam
2)
Partai Katolik Republik Indonesia (PKRI)
yang beraliran agama Katolik
3)
Partai Kristen Indonesia (Parkindo) yang
beraliran agama Kristen.
·
Ideologi
Bersifat Sosialis-Komunis
Dasar perjuangan partai yang
berideologi sosialisme-komunisme adalah internasionalisme atas
kemanusiaan.Mereka menjunjung tinggi doktrin komunisme.Partai berideologi
komunisme terbesar di Indonesia adalah Partai Komunis Indonesia (PKI).Sementara
itu yang beraliran sosialis adalah Partai Sosialis Indonesia (Parsi/PSI) dan Partai
Rakyat Sosialis (Paras).
Sejak awal kemerdekaan partai ini
berkembang dengan pesat, terbukti pada saat Pemilu 1955 termasuk dalam 4 besar
partai yang meraih suara terbanyak. PKI melakukan berbaga pemberontakan seperti
tahun 1948, dan terbesar tahun 1965. Akibat pemberontakannya tahu 1965 maka PKI
dinyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia Dampaknya ideologi komunis
dinyatakan sebagai ideologi yang haram untuk dipelajari da disebarkan selama
masa pemerintahan orde baru dibawah pimpinan Suharto Dampak dengan munculnya
banyak partai tersebut dapat terasa langsung bagi KNIP seba perwakilan partai
tersebut duduk dalam badan pekerja KNIP Dengan sistem multi partai ini
menunjukkan bahwa antusiasme dan kesadaran berpolitik rakya Indonesia saat itu
sanagat baik sehingga mereka menunjukkan keragaman ideologi yang ada Keragaman
ideologi tercermin dalam hasil pemilu pertama 1955, dimana 4 partai politi
memenangkan suara terbanyak yaitu PNI, Masyumi, NU, dan PKI.
·
Sistem
Pemerintahan RI (Periode 17 Agustus 1945-27 Desember 1949).
Beberapa poin penting pada masa itu adalah :
a)
Konstitusi yang dipakai adalah UUD 1945
yang ditetapkan dan disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945.
b)
Bentuk negara Indonesia adalah kesatuan.
c)
Sistem pemerintahannya adalah presidensiil
yang bergeser ke parlementer.
Alat perlengkapan negaranya terdiri dari:
a)
Presiden dan wakil presiden
b)
Menteri-menteri
c)
Majelis Permusyawaratan Rakyat
d)
Dewan Perwakilan Rakyat (Karena MPR dan
DPR pada masa itu belum terbentuk, maka fungsi MPR dan DPR dipegang oleh KNIP
sekaligus).
e)
Dewan Pertimbangan Agung.
f)
Mahkamah Agung
g)
Badan Pemeriksa Keuangan. (Dasril
Radjab,1884:90).
·
Sistem
Pemerintahan RI (27 Desember 1949-17 Agustus 1950).
Konstitusi
yang berlaku pada masa itu adalah Konstitusi RIS 1949.Bentuk negara RIS adalah
federasi, terbagi dalam 7 buah negara bagian dan 9 buah satuan kenegaran yang
kesemuanya bersatu dalam ikatan federasi RIS.Sistem pemerintahannya adalah
parlementer
Alat perlengkapan RIS terdiri dari :
a)
Presiden
b)
Menteri-menteri
c)
Senat
d)
Dewan Perwakilan Rakyat
e)
Mahkamah Agung Indonesia
f)
Dewan Pengawas Keuangan (BAB III
Perlengkapan Republik Indonesia Serikat tentang Ketentuan Umum UUD RIS 1949)
·
Sistem
Pemerintahan RI (17 Agustus 1950-5 Juli 1959).
Konstitusi
yang berlaku adalah UUDS 1950.Dikatakan sebagai UUDS karena memang UUD ini
bersifat sementara.Bentuk negara menurut UUDS 1950 adalah negara
kesatuan.Sistem pemerintahan menurut UUDS 1950 adalah parlementer.Sistem
kepartaian masa itu adalah multipartai.Pemilu tahun 1955 untuk pertama kalinya
dilaksanakan untuk memilih anggota konstituante.
Alat perlengkapan negara menurut Pasal 44 UUDS 1950
adalah:
a)
Presiden dan Wakil Presiden
b)
Menteri-menteri
c)
Dewan Perwakilan Rakyat
d)
Mahkamah Agung
e)
Dewan Pengawas Keuangan
·
Sistem
Pemerintahan RI (5 Juli 1959-pasca Dekrit Presiden).
Konstitusi
yang dipakai adalah UUD 1945.Bentuk negara adalah kesatuan. Sistem
pemerintahannya adalah presidensiil.Presiden sebagai kepala negara sekaligus
sebagai kepala pemerintahan.Menteri-menteri bertanggung jawab kepada presiden.
Alat-alat perlengkapan negara setelah keluarnya
Dekrit Presiden adalah :
a)
Presiden dan menteri-menteri
b)
DPR Gotong Royong
c)
MPRS
d)
DPAS
e)
Badan Pemeriksa Keuangan;
f)
Mahkamah Agung
Kedudukan
Presiden Ir. Soekarno dan TNI AD semakin kuat setelah dikeluarkannya Dekrit Presiden
tanggal 5 Juli 1959.Inilah periode sejarah yang dikenal dengan sebutan
demokrasi terpimpin. Presiden memegang kekuasaan mutlak untuk membentuk front
politik yang mampu menopang kekuasaannya. Di sinilah Bung Karno dan PKI
membangun kerja sama yang saling menguntungkan. Sementara itu, TNI AD pun
semakin ambil bagian dalam kancah politik setelah dijalankannya doktrin
kekaryaan (cikal bakal dwifungsi ABRI). Jenderal A.H. Nasution membentuk
badan-badan kerja sama tentara dan sipil untuk mengimbangi manuver politik Bung
Karno. PKI telah menggunakan kedekatannya dengan Bung Karno untuk menyusun
kekuatan.Konflik elite terjadi antara TNI AD, PKI, dan Bung Karno.
a.
Dampak
Hubungan Pusat-Daerah
Konflik yang terjadi di pemerintahan
pusat pun berdampak ke daerah.Upaya Nasution untuk membersihkan pemerintahan
sesuai undang-undang darurat, menyebabkan banyak pejabat yang lari ke
daerah.Banyak anggota kabinet yang menjalin hubungan dengan dewan-dewan militer
di daerah.
1)
Pembentukan Dewan-Dewan Daerah
Ketidakpuasan
daerah pada pemerintah pusat melatarbelakangi pembentukan dewan-dewan
daerah.Kolonel Achmad Husein membentuk Dewan Banteng di Padang, Sumatra Barat
tanggal 20 Desember 1956.Kolonel Mauludin Simbolon membentuk Dewan Gajah di
Medan tanggal 22 Desember 1956.Kolonel Ventje Sumual membentuk Dewan Manguni di
Manado tanggal 18 Februari 1957.Beberapa pejabat militer di daerah yang tidak
setuju dengan kebijakan pemerintah pusat mengadakan gerakan.Kolonel Simbolon,
Kolonel Sumual, dan Kolonel Lubis bertemu dengan PM Ali Sastroamidjojo dan Bung
Hatta.Tuntutannya adalah dilaksanakannya pemilu, diberlakukannya otonomi, PKI
dilarang, dan digantikannya Nasution.Di tengah negosiasi antara pemerintah
pusat dengan dewan-dewan tersebut, terjadi pengambilalihan pemerintahan di
daerah.Ketegangan pun muncul. Para panglima daerah tersebut kemudian dipecat
dari dinas militer.
2)
Nasionalisasi Aset Belanda
Kegagalan
PBB memaksa Belanda untuk menyelesaikan masalah Irian Barat meningkatkan ketegangan
politik.Anggotaanggota PKI dan PNI serta rakyat di berbagai daerah mengambil
alih aset Belanda.Kabinet Djuanda tidak mampu menyelesaikan kasus
tersebut.Gerakan rakyat di berbagai daerah semakin tidak terkendali.Nasution
kemudian tampil dan memerintahkan tentara untuk mengelola perusahaan Belanda
yang disita.Nasution perlahan-lahan mengendalikan panglima-panglima daerah dan
TNI AD semakin diperhitungkan.
b.
Persaingan
Ideologis
Dominannya PKI dalam kehidupan
politik nasional mendapat reaksi dari partai dan organisasi lainnya.Ideologi
komunisme yang dikembangkan PKI bertentangan dengan keyakinan bangsa
Indonesia.Pada bulan September 1957 Masyumi memelopori Muktamar Ulama
seIndonesia di Palembang. Muktamar mengeluarkan fatwa bahwa komunisme
diharamkan bagi kaum muslim. Muktamar juga meminta agar aktivitas PKI dibekukan
dan dilarang di seluruh Indonesia.Perdebatan Islam dan PKI pun merembet dalam
persidangan konstituante.
Perdebatan terjadi antara pihak yang
mendukung Islam dan Pancasila sebagai dasar negara.Macetnya konstituante
menyebabkan krisis pemerintahan dan ketatanegaraan.Dengan didukung TNI, Bung
Karno kemudian mengeluarkan dekrit yang memberlakukan kembali UUD 1945.Dekrit
ini selanjutnya dikenal dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
c.
Pergolakan Sosial Politik
Pada
masa demokrasi terpimpin Bung Karno menggalang kekuatan dengan negara-negara
sosialis dan komunis.Dampak kebijakan ini adalah terbukanya kesempatan bagi PKI
untuk memperkuat basis dukungan.Administrasi pemerintahan pun menjadi tidak
terkendali.Pemerintah kurang memperhatikan aspirasi daerah dan para bekas
pejuang.Terjadilah kesenjangan antara pemerintah pusat dan daerah.Di kalangan
TNI sendiri sering terjadi perpecahan.Sementara itu, beberapa negara luar juga
turut campur tangan dalam masalah Indonesia.Akumulasi dari kondisi tersebut
mengakibatkan munculnya pergolakan di berbagai daerah.
1)
Piagam Perjoangan Rakyat Semesta
Pada
tanggal 2 Maret 1957 Panglima Tentara Teritorium VII Makassar Letkol Ventje
Sumual mengumumkan darurat perang di daerahnya.Dengan pengumuman itu maka
Sumual berwenang mengambil alih seluruh kekuasaan di Indonesia bagian
timur.Letkol Ventje Sumual kemudian memproklamasikan Piagam Perjoangan Rakyat
Semesta (Permesta).Piagam Permesta tersebut ditandatangani oleh 51 tokoh
masyarakat di Indonesia bagian timur.
Peristiwa tersebut benar-benar
mengancam persatuan Indonesia.Amerika Serikat terlibat dalam gerakan ini.Salah
satu pilotnya (A.L. Pope) tertembak di Ambon.Kabinet Ali Sastroamidjojo gagal
mengatasinya dan tanggal 14 Maret 1957 mengembalikan mandatnya.Presiden
Soekarno kemudian membentuk Kabinet Karya dengan Perdana Menteri Ir. Djuanda.
2)
Pemerintah
Revolusioner Republik Indonesia
Pada
awal tahun 1958 terjadi pertemuan antara beberapa tokoh militer dan sipil di
Sumatra. Kolonel Simbolon, Kolonel Lubis, dan kawan-kawan bertemu dengan Moh.
Natsir, Sjafrudin Prawiranegara, Sumitro Djojohadikusumo, dan lain-lain. Hasil
pertemuan tanggal 10 Februari 1958 berupa beberapa ultimatum yaitu Kabinet
Djuanda dibubarkan, Hatta dan Hamengkubuwono IX ditunjuk membentuk kabinet
sampai dilaksanakan pemilu, dan Bung Karno harus kembali ke posisi
konstitusionalnya.
Ultimatum
tersebut ditolak oleh pemerintah. Kolonel Lubis, Kolonel Simbolon, Kolonel
Acmad Husein, dan lain-lain dipecat dari dinas militer. Tanggal 15 Februari
1958 dibentuklah Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).Perdana
Menteri PRRI adalah Mr. Sjafrudin Prawiranegara. Anggota kabinetnya antara lain
Moh. Natsir, Burhanuddin Harahap, Sumitro Djojohadikusumo, dan Simbolon. PRRI
juga didukung oleh Kolonel D.J. Somba di Sulawesi Utara tanggal 17 Februari
1959.Itulah beberapa pergolakan yang terjadi hingga awal tahun 1960-an. Upaya
pemerintah untuk menghadapi pergolakan ini dengan diplomasi dan operasi
militer.Pemerintah menggelar musyawarah nasional antara tokoh pusat dan daerah
tanggal 14 September 1957.Gerakan Permesta dihadapi dengan Operasi Sapta
Marga.PRRI dihadapi dengan menggelar Operasi 17 Agustus.
Keadaan
Politik Pra G30S/PKI
Krisis
ketatanegaraan dan pemerintahan yang terjadi pada tahun 1950-an memuncak dengan
keluarnya Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959. Presiden Soekarno membubarkan
Kabinet Djuanda dan membentuk Kabinet Kerja.Presiden Soekarno juga membubarkan
DPR hasil pemilu 1955 karena menolak anggaran belanja negara yang diajukan
pemerintah. Bung Karno kemudian membentuk Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong
(DPRGR) tanggal 24 Juni 1960.
Perbandingan
keanggotaan DPRGR yang seluruh anggotanya dipilih Bung Karno adalah nasionalis
(94), Islam (67), dan komunis (81).Dengan demikian, PKI
memperoleh banyak keuntungan dari kebijakan Bung Karno.DPRGR dilantik Bung
Karno tanggal 25 Juni 1960.Tugasnya adalah melaksanakan manipol, merealisasikan
amanat penderitaan rakyat, dan melaksanakan demokrasi terpimpin.Presiden
Soekarno benar-benar menjadi inisiator dan operator politik tunggal demokrasi
terpimpin.Garis kebijakannya tentang demokrasi terpimpin tertuang dalam
pidatonya tanggal 17 Agustus 1959 yang berjudul Penemuan Kembali Revolusi
Kita.Langkah yang ditempuh adalah membentuk Front Nasional, menggabungkan
lembaga tinggi dan tertinggi negara di bawah kendalinya, serta membentuk
Musyawarah Pembantu Pemimpin Revolusi (MPPR).Dampak kebijakan Presiden Soekarno
bagi kehidupan politik adalah PKI berusaha keras berada di belakang pengaruh
Bung Karno.PKI senantiasa memainkan peranan sebagai golongan yang paling
Pancasilais.Gagasan Bung Karno tentang Nasakom jelas menguntungkan gerakan PKI.
Bahkan, D.N. Aidit pada tahun 1964 berani berkata, ”bila kita telah mencapai taraf
hidup adil dan makmur dan telah sampai kepada sosialisme Indonesia, maka kita
tidak lagi membutuhkan Pancasila.” Gerakan PKI ini dihadang golongan Islam dan
TNI AD.Bahkan, sejak pembentukan DPRGR kedua kelompok ini telah menentang
secara keras.Namun, upaya itu mendapat rintangan karena Bung Karno memang
melindungi keberadaan PKI.Kondisi politik saat itu benar-benar panas karena PKI
melakukan beberapa aksi dan kerusuhan.Konflik antara PKI dan TNI AD pun tidak
terhindarkan.Negara
Kesatuan Republik Indonesia dengan ideologi Pancasila menghadapi berbagai
tantangan besar sejak tahun 1959, ketika Demokrasi Terpimpin dilaksanakan.Pada
waktu itu terjadi ketegangan sosial politik yang menjadi-jadi.Kondisi politik
menjadi panas karena antarpartai politik saling mencurigai, antara partái
politik dengan ABRI serta antara keduanya dengan Presiden.Mereka saling
bersaing untuk saling berebut pengaruh atau mendominasi.
II.
Kehidupan
Ekonomi Pada Masa Awal Kemerdekaan
Kondisi ekonomi pada awal berdirinya
Republik Indonesia sangat kacau dan sulit. Hal ini disebabkan karena
Indonesia yang baru saja merdeka belum memiliki pemerintahan yang baik, dimana
belum ada pejabat khusus yang bertugas untuk menangani perekonomian
Indonesia. Sebagai negara baru Indonesia belum mempunyai pola dan cara
untuk mengatur ekonomi keuangan. Hal itu diperparah dengan Kondisi
keamanan dalam negeri yang tidak stabil
serta Belanda yang masih tetap tidak mau mengakui
kemerdekaan Indonesia.
Selain itu keadaan politik yang cepat
berubah-ubah semakin memperburuk keadaan. Banyak rapat serta kegiatan penting
dilakukan mulai dari penunjukan presiden dan wakilpresiden, pembentukan
partai poitik, pembentukan perdana mentri serta cabinet, bahka pemindahan
ibukota dilakukan pada saat itu.
·
Faktor- faktor penyebab kacaunya
perekonomian Indonesia 1945-1950 adalah sebagai berikut :
i.
Terjadi Inflasi yang sangat tinggi
Inflasi tersebut
disebabakan karena :
Beredarnya mata uang Jepang di masyarakat dalam jumlah yang tak
terkendali (pada bulan Agustus 1945 mencapai 1,6 Milyar yang beredar di Jawa
sedangkan secara umum uang yang beredar di masyarakat mencapai 4 milyar).
Beredarnya
mata uang cadangan yang dikeluarkan oleh pasukan Sekutu dari bank-bank yang
berhasil dikuasainya untuk biaya operasi dan gaji pegawai yanh jumlahnya
mencapai 2,3 milyar.
Repubik Indonesia sendiri belum memiliki
mata uang sendiri sehingga pemerintah tidak dapat menyatakan bahwa mata uang
pendudukan Jepang tidak berlaku.
Karena inflasi ini kelompok yang paling
menderita adalah para petani sebab petani merupakan produsen yang paling banyak
menyimpan mata uang Jepang.Hasil pertanian mereka tidak dapat dijual, sementara
nilai tukar mata uang yang mereka miliki sangat rendah.
Pemerintah Indonesia yang baru saja
berdiri tidak mampu mengendalikan dan menghentikan peredaran mata uang Jepang
tersebut sebab Indonesia belum memiliki mata uang baru sebagai penggantinya.
Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk sementara waktu menyatakan ada 3 mata
uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu:
· Mata
uang De Javasche Bank
· Mata
uang pemerintah Hindia Belanda
· Mata
uang pendudukan Jepang
ii.
Adanya Blokade ekonomi dari Belanda
Blokade oleh Belanda ini dilakukan dengan
menutup (memblokir) pintu keluar-masuk perdagangan RI terutama melalui jalur
laut dan pelabuhan-pelabuhan penting.Blokade ini dilakukan mulai bulan November
1945. Adapun alasan dari pemerintah Belanda melakukan blokade ini adalah :
a) Mencegah
masuknya senjata dan peralatan militer ke Indonesia.
b) Mencegah
kelurnya hasil-hasil perkebunan milik Belanda dan milik asing lainnya.
c) Melindungi
bangsa Indonesia dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh bangsa lain.
Dengan
adanya blokade tersebut menyebabakan:
a) Barang-barang
ekspor RI terlambat terkirim.
b) Barang-barang
dagangan milik Indonesia tidak dapat di ekspor bahkan banyak barang-barang
ekspor Indonesia yang dibumi hanguskan.
c) Indonesia
kekurangan barang-barang import yang sangat dibutuhkan.
d) Inflasi
semakin tak terkendali sehingga rakyat menjadi gelisah.
Tujuan/harapan
Belanda dengan blokade ini adalah
a) Agar
ekonomi Indonesia mengalami kekacauan
b) Agar
terjadi kerusuhan sosial karena rakyat tidak percaya kepada pemerintah
Indonesia, sehingga pemerintah Belanda dapat dengan mudah
mengembalikan eksistensinya.
c) Untuk
menekan Indonesia dengan harapan bisa dikuasai kembali oleh Belanda.
iii.
Kekosongan kas Negara
Kas
Negara mengalami kekosongan karena pajak dan bea masuk lainnyasangat
berkurang sementara pengeluaran negara semakin bertambah. Penghasilan
pemerintah hanya bergantung kepada produksi pertanian.Karena dukungan dari
bidang pertanian inilah pemerintah Indonesia masih bertahan, sekalipun keadaan
ekonomi sangat buruk.
Kehidupan Ekonomi pada Masa Pemberontakan
Selama
demokrasi terpimpin Bung Karno menempatkan politik sebagai panglima. Beragam
kebijakan dan pengaturan menjadi sia-sia karena besarnya anggaran untuk
proyek-proyek mercusuar. Bung Karno saat itu sangat getol membangun jaringan
dengan negara-negara sosialis komunis. Beliau memelopori pembentukan
Conferences of the Emerging Forces (Conefo). Oleh karena itu, dibangunlah
gedung Conefo yang kini menjadi gedung MPR/DPR. Untuk keperluan Games of the
New Emerging Forces (Ganefo), Bung Karno membangun Istora Senayan.Selain untuk
proyek tersebut, anggaran pemerintah juga dihabiskan untuk membiayai politik
konfrontasi. Saat cadangan anggaran habis, pemerintah menghimpun dana-dana
revolusi dan memperbanyak utang luar negeri. Dampak dari kebijakan tersebut
adalah tingginya inflasi, melonjaknya harga kebutuhan masyarakat, dan
tergencetnya perekonomian rakyat. Bukan pemandangan yang aneh apabila selama
demokrasi terpimpin banyak terjadi antrean beras dan minyak.
III.
Kehidupan
Sosial Pada Masa Awal Kemerdekaan
Setelah peristiwa G30S/PKI berakhir,
kondisi politik Indonesia masih belum
stabil.Situasi Nasional sangat menyedihkan, kehidupan ideologi nasional belum mapan.Sementara itu, kondisi politik juga belum stabil karena sering terjadi konflik antar partaipolitik.Demokrasi Terpimpin justru mengarah ke sistem pemerintahan diktator.Kehidupan ekonomi lebih suram, sehingga kemelaratan dan kekurangan makananterjadi dimana – mana.
stabil.Situasi Nasional sangat menyedihkan, kehidupan ideologi nasional belum mapan.Sementara itu, kondisi politik juga belum stabil karena sering terjadi konflik antar partaipolitik.Demokrasi Terpimpin justru mengarah ke sistem pemerintahan diktator.Kehidupan ekonomi lebih suram, sehingga kemelaratan dan kekurangan makananterjadi dimana – mana.
Keadaan sosial pada waktu awal kemerdekaan
Indonesia juga masih kacau.Pada awal kemerdekaan Indonesia, Belanda datang kembali.Belanda datang
dengan membonceng sekutu.Tujuan Belanda datang kembali ke Indonesia adalah
untuk menegakkan kembali kekuasaannya di Indonesia.Saat itu muncullah
pergolakan sosial pada pergerakan tetap menegakkkan kemerdekaan kedaulatan
Negara Republik Indonesia.Musuh dari luar yang dihadapi bangsa Indonesia dalam
mempertahankan kemerdekaan adalah pasukan Jepang dan Sekutu.Untuk menghimpun
kekuuatan maka para pemuda segera membentuk badan-badan perjuangan.Tekad
perjuangan kaum muda diasalurkan melaui Komite Van Aksi.pemuda. Banyak sekali pemberontakan
di daerah seperti Jogjakarta, Aceh, Surabaya, dan daerah lain. Karena tentara
Jepang lebih condong ke Belanda, oleh karena itu, pemuda Indonesia melucuti
semua senjata tentara Jepang.Ada beberapa kejadian penting pada waktu
pergolakan ini. Rapat raksasa di lapangan Ikada dan tindakan heroik mendukung
kemerdekaan adalah kejadian penting dalam perebutan kemerdekaan
Peristiwa penting yang menunjukan dukungan rakyat secara spontan terhadap
proklamasi kemerdekaan Indonesia, antara lain sebagai berikut.
Ø Rapat
Raksasa Di Lapangan Ikada
Di berbagai tempat, masyarakat dengan
dipelopori para pemuda menyelenggarakan rapat dan demonstrasi untuk membulatkan
tekad menyambut kemerdekaan.Di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) Jakarta
pada tanggal 19 September 1945 dilaksanakan rapat umum yang dipelopori Komite
Van Aksi.Lapangan Ikada saat ini terletak di sebelah Selatan Lapangan Monas.
Makna rapat raksasa di lapangan Ikada bagi
bangsa Indonesia, antara lain sebagai berikut:
a) Rapat
tersebut berhasil mempertemukan pemerintah Republik Indonesia dengan rakyatnya.
b) Rapat
tersebut merupakan perwujudan kewibawaan pemerintah republik Indonesia terhadap
rakyatnya.
c) Menambah
kepercayaan diri bahwa rakyat Indonesia mampu mengubah nasib dengan kekuatan
sendiri.
d) Rakyat
mendukung pemerintahan baru yang baru terbentuk. Buktinya,, setiap intruksi
pimpinan mereka laksanakan.
Ø Tindakan
Heroic Mendukung Proklamasi
Usaha menegakan kedaulatan juga terjadi di
berbagai daerah dengan adanya tindakan heroic di berbagai kota yang mendukung
proklamasi kemerdekaan Indonesia anatara lain sebagai berikut :
a) Jogjakarta
Perebutan kekuasaan di Jogjakarta dimuali
tanggal 26 September 1945 sejak pukul 10.00.WIB.Para pegawai pemerintah dan
perusahaan yang dikuasai Jepang melakukan aksi mogok.
Mereka menuntut agar Jepang menyerahkan
semua kantor kepada pihak Indonesia. Aksi mogok makin kuat ketika Komite
Nasional Indonesia Daerah (KNID) menegaskan bahwa kekuasaan di daerah tersebut
telah berada ditangan pemerintah RI. Pada hari itu juga di Jogjakarta terbit
surat kabar kedaulatan rakyat.
b) Surabaya
Para pemuda yang tergabung dalam BKR
berhasil merebut kompleks penyimpanan senjata jepang dan pemancar radio Di
Embong, Malang. Selain itu terjadi insiden bendera di Hotel Yamato,
Tunjungan Surabaya. Insiden itu terjadi ketika beberapa orang belanda
mengibarkan bendera merah putih biru di atap hotel.Tindakan tersebut
menimbulkan kemarahan rakyat.Rakyat kemudian menyerbu hotel, menurunkan, dan
merobek warna biru bendera itu untuk dikibarkan kembali.Insiden ini terjadi
pada tanggal 19 September 1945.
c) Bali
Pada bulan Agustus 1945, para pemuda Bali
telah membentuk organisasi seperti Angkatan Muda Indonesia (AMI) dan Pemuda
Republic Indonesia (PRRI).Upaya perundingan untuk menegakan kedaulatan RI telah
mereka upayakan, tetapi pihak Jepang selalu menghambat. Atas tindakan tersebut
pada tanggal 13 Desember 1945 para pemuda merebut kekuasaan dari Jepang
secara serentak, tetapi belum berhasil karena persenjataan Jepang masih kuat.
Kehidupan Sosial
pada Masa Pemberontakan
Doktrin
Nasakom yang disuarakan Bung Karno mempengaruhi kehidupan sosial
kemasyarakatan. Hal ini terlihat sekali dalamkehidupan pers. Surat kabar yang
menentang Nasakom atau PKI diberedel. Misalnya Pedoman, Nusantara, Keng Po, Pos
Indonesia, dan Star Weekly. Sebaliknya, surat kabar PKI merajai dunia
penerbitan pers saat itu, seperti Harian Rakyat, Bintang Timur, dan Warta
Bhakti. Mereka juga menerbitkan surat kabar Bintang Muda, Zaman Baru, dan
Harian Rakyat Minggu. Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) milik
pemerintah didominasi oleh golongan komunis.Surat kabar milik PKI melakukan
propaganda dan agitasi terhadap lawan-lawan politiknya. Dengan jalan itu, PKI
berhasil mendominasi kehidupan sosial politik masyarakat.
Untuk
memurnikan ajaran Bung Karno dari pengaruh komunis, beberapa tokoh membentuk
Barisan Pendukung Soekarnoisme (BPS). BPS diketuai oleh Adam Malik dibantu oleh
B.M. Diah, Sumantoro, dan kawan-kawan. Berdirinya BPS mendapat tekanan dari
PKI. Bahkan, PKI memfitnah bahwa BPS merupakan bentukan Amerika. Bung Karno
kemudian mendukung PKI dengan melarang kegiatan BPS.
Selain itu,
masyarakat hidup dengan penuh ketakutan dan kekhawatiran. Mereka tidak bisa
membedakan orang yang mengikuti komunis atau nasionalis. Apabila salah bicara
kepada lawan, mereka bisa saja dibunuh. Lalu, juga banyak masyarakat yang
mengikuti komunis tanpa tahu organisasi apa itu (hanya sekedar ikut) sehingga
apabila ada penangkapan anggota komunis, mereka juga bisa ditangkap, bahkan
dibunuh.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Dengan diproklamirkannya kemerdekaan
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, menandakan berdirinya sebuah bangsa
baru yang tentunya pada saat itu masih harus mendapat pengakuan dari bangsa
lain, agar status menjadi bangsa yang merdeka betul-betul sah.
Seiring perjalanannya pemerintahan awal
tersebut yang ingin mendapat pengakuan tersebut, gejolak-gejolak yang terjadi
seperti gejolak Ekonomi, Sosial, dan Politik terjadi, namun dengan berbagai
usaha bersama walaupun dalam internalnya saja terjadi perpecahan, berbagai
gejolak tersebut dapat diatasi.
Hal seperti itulah yang patut dicontoh
bangsa Indonesia masa sekarang dalam membangun bangsa ini, walaupun banyak
permasalahan, banyak tekanan dari berbagai aspek dan pihak, tetapi para-para pemimpin
bangsa terdahulu mampu mengatasi dan memperjuangkan kedaulatan dan keseimbangan
NKRI. Maka dari itu kita sebagai agen penerus dan pembangun bangsa wajib
meneruskan serta memperbaharui apa yang telah pemimpin-pemimpin kita lakukan
guna mengharumkan nama Indonesia, membangun bangsa agar Indonesia berkembang
dan menjadi negara maju, demi satu nama untuk INDONESIA.
LAMPIRAN



DAFTAR
PUSTAKA